Thursday, September 15, 2022

Senja dari Banjarbaru, Banjarmasin


Ini senja dari pulau yang dijuluki seribu sungai. Seseorang pernah mengabadikannya untukku, tepatknya akhir tahun lalu. 
Aku masih ingat darimana posisinya membidik momen senja dengan angle yang menarik ini. Tapi tidak perlu kusebutkan nama tempatnya. 
Jika aku mau mungkin aku bisa memilih tempat yang sama untuk melihatnya langsung tapi mungkin akan berbeda nuansanya. 


dari yang masih perlahan meredup hingga temaram.
seharusnya kutelah melewatkanmu
menghapuskanmu dari dalam benakku
namun ternyata sulit
merelakanmu pergi begitu saja, senja....




 

Tuesday, September 13, 2022

Senja di Candi Ijo Yogyakarta

 


Terakhir aku ke Yogya tahun 2019
Kota ini memiliki kenangan manis yang selalu membuatku rindu untuk kembali ke sana. 
Meskipun ada hal yang tak ingin pula kukenang. Bahwa aku pernah salah menunggu seseorang yang ternyata mengabaikan ku. 
Selama aku pernah tinggal di sana karena bekerja, justru aku tak pernah bisa menyaksikan indahnya senja. 
Begitupun saat seseorang singgah di kota ini demi mengantarku ke tempat kerja. Tak terpikirkan untuk menikmati senja bersama. 
Baru akhir tahun 2019, aku leluasa menanti senja perlahan hadir di depan mataku. 
Waktu itu banyak yang menunggu momen ini, seindah itukah sampai rela menunggu dari atas Candi Ijo. 
Mungkin momen ini tak akan terulang lagi, karena waktu itu ke sana bareng temen-temen, tapi setidaknya aku mempunyai kenangan, bahwa aku masih perempuan di ujung senja yang menikmati keindahannya dan meresapi maknanya. 

Sunday, August 14, 2022

Jalanan Menuju Senja


                                                                                                                                                                               Ini jalan desa yang sering aku lewati untuk menuju tempatku biasa menikmati senja. lihatlah di ujung sana warna jingganya terlihat indah sekali bahkan dilihat dari celah pepohonan yang ada di sekitarnya. 
sering kukayuh sepedaku secara perlahan menuju senja yang selalu kurindukan. aku beruntung senja kala itu terlihat bagus sekali. sempurna. aku bisa mengabadikan dengan baik. bahkan seseorang berani memujiku aku mulai pintar membidik senja. 
aku sudah menuliskan tentang senja ini sebelumnya sehingga aku hanya berfokus pada jalanannya saja. 
jalan yang kadang terjal kulalui namun tetap saja aku tak menyerah.
terkadang mulus yang membuatku semakin semangat dan tak sabar memeluk senja dari dekat lagi. 
komposisi jalanan yang sempurna saat kubidik. bahkan rerumputan terpantul cahaya jingga sehingga terlihat lebih eksotik. 
Lain kali akan kuceritakan senja dengan tempat yang sama namun auranya berbeda. 

 

Wednesday, August 3, 2022

Sepenggal Cerpen Senja

 


Aku menyusuri sebuah koridor panjang. ketika tepat di depan sebuah pintu, mataku membentur pemandangan yang pilu. Lelaki teduh itu sedang merangkul bahu perempuan cantik, dengan rambut tergerai sebahu lebih. Mereka menatapku dengan senyum.

Hatiku kian getir, sambil melambai tangan aku melempar senyum. Senyum kecut yang aku tahan setengah mati agar tak tertangkap kecewaku. Perempuan itu, sepertinya kukenal sekali. Yah, dia sahabatku yang mirip penyanyi jebolan kompetisi pencari bakat instan.

Aku menyeret langkah menuju ruangan atas. Kamar mungil yang sangat nyaman. Aku tak sanggup menangis, tapi aku merindukan sesuatu yang membuncah hati. Menaiki tangga dengan tergesa. Melempar tas sembarangan di atas ranjang dan bergegas menuju balkon.

Aku menatapnya tanpa suara.Namun bergemuruh di relung hatiku. Melenyapkan kejadian yang baru aku lihat di bawah tadi. Angin sore menerpa wajahku perlahan. memainkan ujung jilbab yang masih membebat kepalaku. Bola raksasa yang berpijar itu perlahan di makan cakrawala. Menyisakan bias memukau mataku. Lirih bibirku berseru..

"Aku rindu kamu dan senja kita, cinta..."

 

Bunyi Alarm memekak telinga tepat di sampingku. Kabut dan embun telah menyambut sempurna.Saatnya luruh dalam sujud di hamparan sajadah-Nya

 

Tuesday, August 2, 2022

Gadis kecil Di Ujung Senja



Sewaktu aku pulang kampung ke rumah orang tuaku, aku sempat mengajak anak keduaku bersepeda santai di sore hari. Kebetulan hari sedang cerah-cerahnya sehingga kupikir sekalian menyaksikan senja.

Jalur yang kulalui jalan desa beraspal yang tidak terlalu lebar, sebelumnya melewati rumah-rumah penduduk yang sebagian kukenal dan lainnya tidak hanya sekedar tahu. Setelahnya jalanan diapit oleh sawah di kanan kirinya dengan tanaman yang berbeda. Tepat di tengah sawah terdapat dua bangunan yang berdiri, satu rumah penduduk dan satunya merupakan bangunan sekolah dasar di desa tersebut.

Perjalanan berlanjut dengan sedikit kelokan. Saat itu sawah mau memulai musim tanam. Bibit padi masih disemai namun lahan sudah selesai dibajak dan siap ditanami. Hari semakin sore, senjapun mulai menampakkan semburatnya. Matahari yang tadi cerah perlahan menuju peraduannya. Terlihat sangat indah sekali. aku perempuan senja sangat mengaguminya. Tentu saja tak kulewatkan momen indah tersebut dalam bidikan smartphoneku. Beberapa kali kuambil gambar dengan angle yang berbeda. Bahkan kuminta anak gadisku sebagai model gadis kecil di ujung senja.

Aku sedikit menjelaskan tentang senja padanya.

“Lihat, Nak. Matahari mulai tenggelam setelah lelah menyinari bumi ini dengan cahayanya yang terang dan menyengat. “

“Berganti dengan cahaya senja yang temaram, walau hadirnya hanya sesaat namun kamu akan terus mengingatnya kelak jika sudah dewasa bila ibumu ini sangat menyukai senja.”

“Namun perlu kamu ingat, tidak semua orang yang sama melihatnya bisa memaknainya.” Gadis kecilku hanya mengangguk sambil memainkan rumput.

Suara adzan Magrib terdengar dari kejauhan, aku bergegas mengajak anakku pulang. Kukayuh sepedaku dengan sekuat tenaga. Jalanan pulang lebih menguras tenaga karena jalannya yang menanjak, sementara gadis kecilku terbonceng di belakang dengan senang hati. Kukatakan padanya untuk berpegangan pada pinggangku supaya tidak terjatuh dan dia menurut. Aku bersyukur memilikinya, ikatan batinku dengannya lebih kuat mungkin karena sesama perempuan. Gadis kecilku yang manja dan selalu mengungkapkan perasaannya dengan tulus bahwa dia sayang padaku dan dipeluknya selalu diriku. 

 

Wednesday, July 27, 2022

Senja di Pulau Cheung Chau



Ketika aku sudah bosen berlibur di kota, biasanya aku melipir ke tempat wisata yang lebih dekat dengan alam, contohnya ke pantai. Meskipun Hong Kong terkenal dengan kota metropolitan yang gemerlap, namun memiliki sisa lain.

Pemandangan alam di Hong Kong tak kalah indahnya, salah satunya berkunjung ke pulau Cheung Chau. Biasanya aku ke sini kalau sedang galau memikirkan hidup, bukan soal pekerjaan ya. pekerjaan sih kujalanisaja sebagaimana mestinya setiap hari. Tapi tentang hidup dan asmara, aku butuh tempat yang tenang untuk berpikir. Saat itu gejolak jiwa mudaku masih membara. Aku sudah bekerja tapi tak satupun memiliki tambatan hati, walaupun kusadari jarak juga yang akan memisahkan kami.

Satu-satunya jalan ninjaku menghalau semua pikiran itu adalah main ke pantai dan menikmati senja. Berjalan di atas pasir tanpa alas kaki sambil berlarian kecil sudah cukup membuatku tenang. Sambil mengafirmasi diriku,

“ Tenanglah, hidupmu akan baik-baik saja. Kelak akan indah pada waktunya menemukan cinta sejatimu.”


Menikmati Senja


Waktu rasanya cepat sekali berlalu kalau aku memilih main di sini. Tetiba sore sudah datang dan aku musti bergegas kembali ke kota sebelum ketinggalan kapan ferry yang tadi mengantarku ke sini dan sebaliknya. Di tengah perjalanan senja menyapaku, cahayanya yang selalu indah dan susah diungkapkan dengan kata-kata selalu memukauku. Aku tak tahu sejak kapan menyukai senja, yang aku tahu sejak kecil aku suka mengamati matahari yang hendak tenggelam di balik ujung awan sampai-sampai aku diomeli nenek atau ibuku,

“ nggak ilok, magrib-magrib nang njobo, ayo mlebu!” ( “ Ngak baik, magrib-magrib di luar, ayo masuk!”



Padahal aku suka sekali ketika melihat matahari menghilang dan menyisakan semburat warna indah. Begitupun senja di Pulau Cheung Chau ini, aku menyaksikan mulai dari matahari bulat hingga tenggelam sempurna. Mungkin aku tak akan bisa melihat senja di pulau ini karena tempatnya yang jauh kecuali ada keajaiban Allah. Dilimpahkan rezeki yang cukup untuk bisa melihat senja lagi di sini.


Monday, July 25, 2022

Senja di Ujung Jembatan Barito Banjarmasin

 


Bagaimana kesanmu pada kota yang seumur hidupmu baru kamu kunjungi? Saat tiba di bandara Syamsudin Noor aku sempat kebingungan, ini daerah asing setelah lima tahu merantau ke luar negeri. Untung saja aku segera bertemu dengan calon suami sahabatku sehingga tak sampai celingak-celinguk mencarinya.

Begitu keluar dari bandara, sinar matahari menyengat tubuhku melalu celah kain gamis yang kupakai. Syok pasti, walaupun aku pernah merasakan musim panas sewaktu di luar negeri tepatnya Hong Kong tapi rasanya tak sepanas ini, duh.

Aku menginap di rumah sahabatku, bertemu banyak teman lainnya yang dulunya kukenal lewat internet sewaktu masih di Hong Kong, salah satunya seseorang berwajah teduh, bermata sendu dan senyumnya yang khas.  Aku dan sahabatku sempat main ke pasar terapung yang cukup terkenal di Banjarmasin yaitu Pasar Terapung Lokbaintan. Excited dong melihat para penjual di atas kapal kecil yang sering disebut jukung. Mereka menjajakan aneka jualan seperti jeruk limau dan sebagainya. Mereka mendekati kapal klotok yang ukurannya lebih besar ketimbang jukung.

Kapan aku bisa menikmati senja di kota ini lagi? kota yang sebentar kusinggahi tapi menyimpan banyak kenangan manis. Tak terbayangkan bisa menyaksikan senja yang memerah saga  di tepian jembatan Barito dengan seseorang yang pernah menaruh hatiku di hatinya.




 Tapi jangan protes dengan kondisi wajahku yang kucel ya, selesai menempuh perjalanan jauh tak menyurutkan tekatku melihat senja memerah saga di ujung cakrawala sana. Lagi pula aku yang belum mengenal apa itu skincare cukup mencuci muka dengan air wudhu. Aku dengan noraknya mengabadikan diriku  dari ujung jembatan. Terima kasih orang baik yang sudah membantuku mengabadikan senja bersamaku. Akankah aku masih bisa menyaksikan senja di kota itu lagi? Mungkin tak akan sama lagi karena dengan orang yang berbeda. Wallahu Alam....




Masih banyak cerita senja lain yang pernah kusaksikan, selamat menunggu ya....