Wednesday, November 2, 2022

Sepotong Senja dan Segelas Teh Manis

 


Aku nyaris lupa bagaimana caranya menulis dengan runut. Padahal itu hanya isi hatiku yang tak terkondisikan. Semestinya aku bisa menuliskan sambil menutup mata, nyatanya ku tetap tak bisa. 
sepertinya aku butuh suasana sepotong senja dan segelas teh manis. 
Tapi segelas teh manis itu terlalu berlebihan karena aku sedang diet. 
Bagaimana kalau teh tawar? Biarkan walau hambar...


Tuesday, October 11, 2022

Menagih Senja Di Kotamu….

 





Menagih Senja Di Kotamu….

Aku berhenti sejenak dari kepenatan jiwa

Menatap di kejauhan senja…

Akan tiba bagiku menikmatinya

Melafazkan kebesaran Illahi akan kuasa-Nya


Aku kembali menatap di tepian jendela hati

Mencari makna dari setiap serakan awan gemawan senja…

Waktu akan menuntunku pelan..

Sebagai keyakinanku pada janji-Nya


Aku termenung kala hati berharap

Merasai diri ada dan dekat pada senja…

Hingga ketenangan kutemukan bersamamu

Pada syukur ku akan nikmat-Nya


Aku masih di sini…

Lihatlah, aku menunggu sapamu…

Mendengarkan yang kamu ceritakan penuh penghayatan

dan aku akan datang menagih senja itu di kotamu…

Saturday, October 1, 2022

Senja dalam Perjalanan Menuju Bali


 Awal Juli aku memutuskan mengikuti trip perjalanan ke Bali. Tawaran trip itu datang dari temanku dengan biaya yang cukup terjangkau. Tanpa pikir panjang aku langsung mendaftarkan diri, ini kesempatanku pertama kali ke Bali. Selain itu sebagai upayaku untuk healing. Pelengkap dari proses pengobatanku yang sudah kujalani beberapa bulan dari luka batin. 

Saat hari H keberangkatan ternyata bus yang bakal membawaku ke Bali datang terlambat. Sehingga waktu perjalanan dari Surabaya menjemput peserta trip lainnya, aku bisa menyaksikan senja ini. anggap saja kompensasi dari keterlambatan tadi. Selain aku bisa menikmatinya langsung, untung saja masih bisa kuabadikan walau dari dalam bus yang melaju cukup kencang karena mengejar waktu. 

Thursday, September 15, 2022

Senja dari Banjarbaru, Banjarmasin


Ini senja dari pulau yang dijuluki seribu sungai. Seseorang pernah mengabadikannya untukku, tepatknya akhir tahun lalu. 
Aku masih ingat darimana posisinya membidik momen senja dengan angle yang menarik ini. Tapi tidak perlu kusebutkan nama tempatnya. 
Jika aku mau mungkin aku bisa memilih tempat yang sama untuk melihatnya langsung tapi mungkin akan berbeda nuansanya. 


dari yang masih perlahan meredup hingga temaram.
seharusnya kutelah melewatkanmu
menghapuskanmu dari dalam benakku
namun ternyata sulit
merelakanmu pergi begitu saja, senja....




 

Tuesday, September 13, 2022

Senja di Candi Ijo Yogyakarta

 


Terakhir aku ke Yogya tahun 2019
Kota ini memiliki kenangan manis yang selalu membuatku rindu untuk kembali ke sana. 
Meskipun ada hal yang tak ingin pula kukenang. Bahwa aku pernah salah menunggu seseorang yang ternyata mengabaikan ku. 
Selama aku pernah tinggal di sana karena bekerja, justru aku tak pernah bisa menyaksikan indahnya senja. 
Begitupun saat seseorang singgah di kota ini demi mengantarku ke tempat kerja. Tak terpikirkan untuk menikmati senja bersama. 
Baru akhir tahun 2019, aku leluasa menanti senja perlahan hadir di depan mataku. 
Waktu itu banyak yang menunggu momen ini, seindah itukah sampai rela menunggu dari atas Candi Ijo. 
Mungkin momen ini tak akan terulang lagi, karena waktu itu ke sana bareng temen-temen, tapi setidaknya aku mempunyai kenangan, bahwa aku masih perempuan di ujung senja yang menikmati keindahannya dan meresapi maknanya. 

Sunday, August 14, 2022

Jalanan Menuju Senja


                                                                                                                                                                               Ini jalan desa yang sering aku lewati untuk menuju tempatku biasa menikmati senja. lihatlah di ujung sana warna jingganya terlihat indah sekali bahkan dilihat dari celah pepohonan yang ada di sekitarnya. 
sering kukayuh sepedaku secara perlahan menuju senja yang selalu kurindukan. aku beruntung senja kala itu terlihat bagus sekali. sempurna. aku bisa mengabadikan dengan baik. bahkan seseorang berani memujiku aku mulai pintar membidik senja. 
aku sudah menuliskan tentang senja ini sebelumnya sehingga aku hanya berfokus pada jalanannya saja. 
jalan yang kadang terjal kulalui namun tetap saja aku tak menyerah.
terkadang mulus yang membuatku semakin semangat dan tak sabar memeluk senja dari dekat lagi. 
komposisi jalanan yang sempurna saat kubidik. bahkan rerumputan terpantul cahaya jingga sehingga terlihat lebih eksotik. 
Lain kali akan kuceritakan senja dengan tempat yang sama namun auranya berbeda. 

 

Wednesday, August 3, 2022

Sepenggal Cerpen Senja

 


Aku menyusuri sebuah koridor panjang. ketika tepat di depan sebuah pintu, mataku membentur pemandangan yang pilu. Lelaki teduh itu sedang merangkul bahu perempuan cantik, dengan rambut tergerai sebahu lebih. Mereka menatapku dengan senyum.

Hatiku kian getir, sambil melambai tangan aku melempar senyum. Senyum kecut yang aku tahan setengah mati agar tak tertangkap kecewaku. Perempuan itu, sepertinya kukenal sekali. Yah, dia sahabatku yang mirip penyanyi jebolan kompetisi pencari bakat instan.

Aku menyeret langkah menuju ruangan atas. Kamar mungil yang sangat nyaman. Aku tak sanggup menangis, tapi aku merindukan sesuatu yang membuncah hati. Menaiki tangga dengan tergesa. Melempar tas sembarangan di atas ranjang dan bergegas menuju balkon.

Aku menatapnya tanpa suara.Namun bergemuruh di relung hatiku. Melenyapkan kejadian yang baru aku lihat di bawah tadi. Angin sore menerpa wajahku perlahan. memainkan ujung jilbab yang masih membebat kepalaku. Bola raksasa yang berpijar itu perlahan di makan cakrawala. Menyisakan bias memukau mataku. Lirih bibirku berseru..

"Aku rindu kamu dan senja kita, cinta..."

 

Bunyi Alarm memekak telinga tepat di sampingku. Kabut dan embun telah menyambut sempurna.Saatnya luruh dalam sujud di hamparan sajadah-Nya